Friday, 15 March 2013

Harta orang murtad jika ia pergi ke daerah musuh

Mazhab Hanafi – jika orang murtad pergi ke daerah musuh dan hakim telah menetapkan kepergiannya maka seluruh hamba sahayanya yang berstatus Mudabbar dan ummahatul Awladnya dimerdekakan.apa yang diperolehkan dari harta benda selama masih muslim dialihkan kepada ahli warisnya yang muslim. Hal itu disebabkan kerana kepergiannya ke daerah musuh maka ia menjadi bahagian dari musuh Islam dan musuh Islam sendiri dianggap sebagai orang-orang mati secara hukum-hukum Islam. Hanya sahaja status kepergiannya tidak ditetapkan kecuali dengan keputusan hakim. Seluruh hutangnya yang terjadi ketika ia masih Islam dilunasi dari harta yang diperolehnya ketika masih muslim. Sementara hutangnya yang berlaku ketika ia murtad tetap harus dilunasi dari harta yang diperolehnya ketika masih murtad.

Mazhab Syafi’e – sesungguhnya harta orang murtad jika ia pergi kedaerah musuh maka hartanya menjadi harta wakaf. Seluruh hutangnya harus dilunasi dari hartanya. Hal itu disebabkan kerana jika kita mengatakan bahawa hartanya masih dimilikinya atau menjadi harta wakaf adalah hal yang jelas. Namun jika kita mengatakan bahawa kepemilikannya telah hilang maka status murtad tidak lebih dari kematian. Dan yang namanya hutang harus didahuulukan untuk dilunasi dan diutamakan dari hak ahli waris. Begitu juga lebih diutamakan daripada hak harta fai.jika si murtad mati dengan status murtadnya sementara ia memiliki lilitan hutang dimana sisa hartanya masih ada setelah melunasi hutang maka sisanya dimasukkan kedalam baitulmal.

Mazhab Maliki – wakaf dan hibah jika dilaksanakan atau diterima sebelum murtad maka hal itu terlaksana. Namun jika terlambat hingga yang bersangkutan murtad dan mati dengan status murtad atau pergi kedaerah musuh maka tidak terlaksana dan ditunggu apakah ia masuk Islam dan apakah diputuskan semuanya batal atau tidak.

No comments:

Post a Comment